BAB
I
PENDAHULUAN
Dalam
berkomunikasi, masih sering kita rasakan, terjadi ketidakefektifan dalam
berkomunikasi. Manusia masih sering kurang mengetahui bagaimana cara
berkomunikasi secara efektif sehingga dapat kita lihat, banyak sekali orang
yang berkomunikasi secara tidak efektif sehingga apa yang diinginkan dan
dimaksudkan untuk dikomunikasikan justru tidak tersampaikan dengan baik bahkan
bisa saja terjadi perbedaan interpretasi dari komunikan
Banyak
sekali kasus dimana seseorang tidak bisa mengkomunikasikan sesuatu terhadap
orang lain dikarenakan perbedaan latar belakang sosial dan budaya. Karena itu,
banyak sekali orang yang ingin berkomunikasi untuk menyampaikan pesan justru
terkendala hal tersebut hingga merasa takut dan canggung sehingga pesan yang
ingin disampaikan justru tidak bisa dipahami.
Sebagai salah
satu aktivitas dalam berkomunikasi yang penting, berkomunikasi secara efektif itulah menjadi penting, bagaimana bisa pesan
diinterpretasikan dari komunikator dan komunikan bisa memahami tanpa adanya
pembatasan dari budaya dan latarbelakang sosial.
Padahal komunikasi efektif
adalah aktivitas berkomnikasi yang paling penting
karena saling bagaimana pesan tersebut bisa disampaikan dengan baik dan tidak
bertele tele serta langsung menuju intinya.
Dari hal ini,
keefektifan dalam berkomunikasi perlu ditanamkan dan diberikan pemahaman kepada
semua manusia. Sebagai bentuk komunikasi yang paling berpengaruh, manusia
seharusnya tahu dan mampu menggunakannya.
Dari aktivitas berkomunikasi
secara efektiflah, manusia juga menjalin hubungan
baik dan mendapat kesempatan berkomunikasi lebih lanjut kepada orang lain
karena telah mendapat perhatian dari komunikator lainnya.
Hasil dari
aktivitas ini memang tidak pasti berlangsung dengan cepat namun bertahap. Tidak semua komunikasi berlangsung
secara tidak efektif, karena itu bagaimana pengaruh budaya dan latarbelakang
sosial berpengaruh dalam keefektifan model manusiawi dalam komunikasi antar
pribadi.
BAB
II
KEEFEKTIFAN MODEL MANUSIAWI
DALAM KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI
1)
Keterbukaan
Dalam keterbukaan terdapat tiga aspek dalam
komunikasi interpersonal. Pertama,
mengganti kemauan dengan pembukaan diri. Jadi, kemauan itu tidak hanya sebatas mau saja namun ada
usaha untuk membuka diri terhadap orang lain.
Untuk mengungkapkan semua tentang diri yang biasanya tersembunyi. Keterbukaan membuat orang tertutup, pada
komunikasi interpersonal harus menjadi efektif. Artinya mampu berkomunikasi
dengan baik. Jadi, ketika dua orang yang
memiliki latar belakang sosial dan budaya ini harus mau untuk saling membuka
diri, misalnya bila bertemu harus saling menyapa. Itu sudah cukup untuk memulai
membuka diri terhadap satu sama lain
Kedua,
keterbukaan meyangkut pada kemauan yang diubah menjadi
kejujuran dalam penyampaian
pesan. Diam dan tidak mengkritik dapat bermanfaat
ketika dalam waktu yang gawat atau serius,
tapi sesungguhnya ada perasaan bosan. Biasanya kita menginginkan adanya reaksi
yang terbuka tentang apa yang kita katakan. Jadi,
pada poin ini mengatakan bahwa kedua orang yang memiliki kebudayaan dan latar
belakang sosial yang berbeda harus saling membuka diri satu sama lain, ketika
salah satu dari mereka mengatakan bahwa dia tidak suka dengan sikap orang yang
satunya, maka katakanlah. Jangan disimpan saja, karena pada dasarnya kejujuran
ini yang membuat kedua orang tersebut tahu bagaimana budaya dan kebiasaan
lingkungan satu sama lain, sehingga bisa mengerti satu sama lain
Ketiga,
keterbukaan berarti menunjukkan perasaan dan pemikiran. Untuk menjadi terbuka
dalam perasaan ini kita harus tahu apa yang kita rasakan dan pikirkan
menunjukkan tanggapan atau respon kita pada mereka. Jangan mencoba untuk
menyembunyikan tanggapanmu pada orang lain.
Anggap saja dua orang yang memiliki latar belakang yang berbeda dan budaya yang
berbeda ini sudah mencapai tahapan ini, jadi ketika keduanya sudah berbicara
satu sama lain, maka biasanya muncullah pemahaman dan pemikiran yang berbeda.
Biasanya budaya dan latar belakang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi.
Misal si A memiliki budaya yang keras dan frontal, jadi ketika dia berbicara
dengan si B yang memiliki budaya yang halus, dia akan berbicara keras sesuai
dengan budaya nya dan pemikiran pemikiran yang frontal sesuai dengan
latarbelakangnya kepada si A
Empati
Hal yang sulit dalam berkomunikasi adalah melakukan empati pada orang lain..
Empati pada orang lain adalah merasa apa yang orang lain rasakan, pengalaman
apa yang orang lain dapatkan dari sudut pandang orang tersebut tanpa
menghilangkan identitas diri sendiri, merasakan hal yang sama dari jalan
pikiran yang sama. Empati menggunakan pemahaman diri, emosi seperti intelektual,
apa yang dialami orang lain.
Untuk
berempati pada orang, mencoba untuk lebih kalem, bebaskan diri dari emosi
pribadi sebanyak mungkin. Untuk menerima empati, langkah pertama adalah
mengurangi mengevaluasi sikap orang lain. Bagaimana
kita memandang orang lain dalam melakukan sesuatu, misal baik atau buruk, benar
atau salah justru membuat kita melabeli seseorang, ssehingga muncullah
kesimpulan awal. Hal seperti ini yang seharusnya dihindari. Selain itu, kita
juga harus mengurangi rasa menjudge orang lain, mengkritisi orang lain. Jadi,
intinya disini kita benar benar melihat dan memahami orang lain dari segi
pemahaman kita, tanpa subjektivitas apapun. Misal, si A dari latarbelakang
sosial yang tinggi memberikan si B yang memiliki latarbelakang sosial yang
rendah sebuah nasi bungkus karena si B lapar. Disini, mungkin pandangan kita
mengatakan bahwa si A lagi membangun sebuah citra diri yang baik, tapi disini
kita tidak boleh melabeli bahwa si A itu suka tebar pesona agar semua orang
menyukai si A, tapi kita lihat dahulu maksud dan keinginan si A, apakah memang
berniat menolong ataukah membangun citra diri dihadapan orang lain. Jadi kita
harus benar benar melihat si A dari sudut pandang yang objektif.
Kedua,
belajar sebanyak mungkin dari pengetahuan, pengalaman, kemungkinan orang lain.
Lebih banyak tahu tentang orang lain, maka kita akan tahu tentang apa yang
orang lain rasakan. Mencoba untuk memahami dan mendapatkan apa yang menjadi
motivasi orang lain. Jadi masih diambil
dari contoh kasus tadi,bahwa apa yang melatarbelakangi si A untuk menolong si B
dengan membelikannya sebuah nasi bungkus tersebut harus kita ketahui, kita
tidak bisa semena mena mengatakan bahwa si A itu sedang mencitrakan diri, tapi
kita lihat niat baik dari si A. Misalkan memang si A berniat untuk menolong
karena faktor kasian si B yang dari pagi belum makan, maka kita tahu apa yang
menjadi motivasi dari si A dalam mengambil tindakan tersebut.
Ketiga,
mencoba untuk mendapatkan pengalaman apa yang orang lain rasakan dari sudut
pandang orang itu. Memainkan imajinasi pikiran
kita pada orang lain dapat membantu kita melihat dunia dari sudut pandang orang
lain. Masih dalam kasus tadi, Kita tidak hanya harus melihat
kasus tersebut dari sudut pandang kita, tetapi juga dari sudut pandang si A
pula. Kita bisa melihatnya dengan melakukan imajinasi. Sebelum kita melakukan
imajinasi ini, kita harus cukup tahu bagaimana cara berfikir , cara si A
melihat suatu masalah. Jadi kita bisa melakukan penembakan penebakan atau
imajinasi bagaimana sudut pandang si A. Jika kita gagal dalam melakukan hal
ini, maka ada cara lain untuk melihat bagaimana sudut pandang dan cara berfikir
si A dengan melihat ke latarbelakang dan budaya. Misal, Ia tinggal di
lingkungan yang dermawan, maka hal itu tidak akan terlepas dari si A yang
memberikan sebungkus nasi kepada si B.
Empati
juga dapat berupa verbal maupun non verbal. Walaupun empati umumnya bersifat
positif, namun ada beberapa sisi negative juga. Orang kebanyak ber empati sama
dengan rasis, atau menyusun status orang lain. Empati juga meningkatkan
pemahaman kita bahwa kelompok lain lebih rendah daripada kelompok kita. Jadi,
empati dapat mengubah kedekatan dan identitas kelompok, dapat juga membuat
garis antara satu grup dengan grup lainnya.
Dukungan
Dukungan
membantu perkembangan dalam diri anda.
Penjelasan dari pada
evaluasi
Sebuah keadaan bahwa penggambaran dari evaluasi
mengarah pada bentuk dukungan. Jadi, disini
penjelasan evaluasi itu kita diminta untuk menggambarkan suatu keadaan dimana
menurut kita keadaan tersebut sebenarnya tidak mengancam tetapi kita mencoba
untuk menjelaskannya, jadi kita tidak perlu merasa
ditantang dan mempertahankan diri kita.
Walaupun begitu komunikasi yang bersifat keputusan atau evaluasi mengarahkan
kita ke sifat bertahan, untuk mengikis penghalang antara kita dan evaluator.
Kesementaraan dari kepastian
Bersifat sementara, berpemikiran terbuka dan
bersedia untuk mendengar pandangan yang menentang dan mengubah posisi jika
terjamin. Kesementaraan dari
pada kepastian yang kokoh, membantu untuk menciptakan suasana yang mendukung.
Dukungan Positive
Sikap positif dapat ditunjukkan dengan berbagai macam perilaku dan sikap,
antara lain:
- Menghargai
orang lain
Menghargai orang lain ini diterapkan ketika dua
orang yang memiliki latarbelakang yang berbeda ini bisa saling menghormati
tradisi tradisi dari masing masing budaya yang dibawakan dan dilakukan sehingga
menjaga keharmonisan dari dua orang tersebut.
- Berpikiran
positif terhadap orang lain
Jadi, tiap tindakan ataupun perilaku dari dua orang
yang berkomunikasi ini diinterpretasikan oleh masing masing dengan positif,
tidak ada pemikiran pemikiran negatif yang terlintas dengan setiap tindakan
satu sama lain.
- Tidak
menaruh curiga secara berlebihan.
Hal ini berkaitan dengan yang poin kedua, dimana
seseorang dari orang tersebut harus memandang positif setiap perilaku orang
lain dan tidak memikirkan hal hal yang terlalu berlebihan yang dilakukan oleh
orang lain
- Meyakini
pentingnya orang lain.
Dengan meyakini pentingnya orang lain, maka kita
akan menghargai dan memandang positif apa yang orang lain butuhkan atau
lakukan. Dengan begitu, kita perlu menekankan pada diri kita betapa pentingnya
orang lain terhadap kehidupan kita dan juga dengan meyakini pentingnya orang
lain, maka kita percaya terhadap setiap perkataan orang lain yang diucapkan
yang menghindarkan kita untuk bersikap selalu skeptis terhadap orang lain.
- Memberikan
pujian dan penghargaan
Dengan kita menghargai orang, maka kita akan dengan
mudah untuk melontarkan pujian dan penghargaan terhadap orang lain, selain itu
maka kita juga saling menjaga relasi dengan orang lain dengan baik.
- Komitmen
menjalin kerjasama
Jadi, pada poin ini semua orang lain yang ingin menjalin
kerjasama dengan oang lain harus mempunyai komitmen yang baik sehingga tidak ada konflik yang
terjadi ketika salah satu pihak ingin membatalkan kerjasama dengan orang lain.
ada
2 cara untuk berkomunikasi secara positive
pada komunikasi antar pribadi.
1.
sikap
Sikap positive dalam komunikasi
antar pribadi merujuk
pada sebuah respon positif pada seseorang. Perasaan
kita sangat berpengaruh
pada saat berkomunikasi. Sebaliknya perasaan
negatif menghambat kita dalam berinteraksi.
Jadi, disini lebih bagaimana kita menginterpretasikan perasaan kita ketika kita
berinteraksi dengan orang lain, termasuk ketika berinteraksi dengan mereka yang
memiliki latarbelakang berbeda dan budaya yang berbeda, tentu kita tidak akan
asal asalan memilih sikap yang pas ketika kita berinteraksi.
2.
pujian
Pujian, kebiasaan yang kita ketahui
sebagai bentuk sikap positive kita kepada orang lain. Jadi dengan pujian, kita menunjukan sikap positis kita
terhadap orang lain, kita membuka diri kita terhadap orang lain.
Persamaan
Yaitu sebuah karakteristik dimana kita harus
mengesampingkan keadaan apakah kita lebih kaya, lebih ganteng dll, agar
tercipta kesetaraan agar komunikasi dapat berlangsung dengan intensif. Jadi, disini kita tidak menempatkan budaya dan latar
belakang sosial untuk berkomunikasi satu sama lain.
BAB III
KESIMPULAN
Dari
pemaparan yang sudah disampaikan diatas, sebenarnya setiap manusia memiliki
kemampuan untuk melakukan model model komunikasi. Setiap manusia berpotensi
memiliki kemampuan tersebut. Hanya saja, manusia itu sendiri terbentuk dari
lingkungan , latarbelakang sosial , dan budaya sehingga setiap manusia justru
memiliki kemampuan yang tidak merata dari setiap model model tersebut. Manusia
harus mengembangkan sendiri model model tersebut untuk tuntutan dia
berkomunikasi dengan manusia yang lainnya.
Pada
dasarnya, aktivitas ini bukan tidak mungkin untuk dipelajari, semua bisa
dipelajari. Tetapi biasanya latar belakang sosial dan budaya yang sangat
menentukan karakter dan model model apa saja yang digunakan oleh manusia itu
sendiri dalam berkomunikasi. Jadi, seharusnya manusia mengembangkan model model
yang lainnya itu sendiri, agar bisa berkomunikasi dengan orang yang memiliki
budaya dan latarbelakang sosial yang lainnya.
Sebagai manusia
yang tidak bisa lepas dari komunikasi, kita harus memahami segala aspek
komunikasi dengan baik. Dengan begitu,
model model yang lainnya sendiri kita harus kembangkan selain dari lingkungan,
latarbelakang dan budaya yang ada. Kita kembangkan sendiri sehingga ketika kita
mencoba untuk berkomunikasi dengan orang yang memiliki budaya dan latarbelakang
sosial yang berbeda, kita tidak canggung dan takut sehingga kita bisa memahami
bagaimana apa yang haris dilakukan , apa yang harus diungkapkan dan apa yang
harus diperbuat sehingga kita dapat berkomunikasi secara efektif.
Karena
itu, semuanya kembali pada diri manusia itu masing masing. Jadi, masing masing
manusia dapat memilih dan menggunakan model model tersebut sebagai cara
berkomunikasi dengan baik, dan latarbelakang sosial dan budaya mempengaruhi
bagaimana model komunikasi terbentuk, namun pengaruh dari latarbelakang ini
tidak begitu memiliki pengaruh yang sangat besar karena semuanya kembali kepada
individu individu masing masing yang ingin berkomunikasi. Jika manusia tersebut
sanggup untuk menguasai bagaimana berkomunikasi dengan model model komunikasi
yang umum, maka ia dipastikan dapat berkomunikasi dengan siapapun dengan baik,
namun jika ia gagal mempelajari model model lainnya, maka ia hanya bisa
berkomunikasi dengan karakter yang sudah terbentuk dari latarbelakang dan
budayanya saja.