Wednesday, July 17, 2013

Pengaruh Latarbelakang dan budaya dalam Model Umum dalam Komunikasi Antar Pribadi

BAB I
PENDAHULUAN

Dalam berkomunikasi, masih sering kita rasakan, terjadi ketidakefektifan dalam berkomunikasi. Manusia masih sering kurang mengetahui bagaimana cara berkomunikasi secara efektif sehingga dapat kita lihat, banyak sekali orang yang berkomunikasi secara tidak efektif sehingga apa yang diinginkan dan dimaksudkan untuk dikomunikasikan justru tidak tersampaikan dengan baik bahkan bisa saja terjadi perbedaan interpretasi dari komunikan
Banyak sekali kasus dimana seseorang tidak bisa mengkomunikasikan sesuatu terhadap orang lain dikarenakan perbedaan latar belakang sosial dan budaya. Karena itu, banyak sekali orang yang ingin berkomunikasi untuk menyampaikan pesan justru terkendala hal tersebut hingga merasa takut dan canggung sehingga pesan yang ingin disampaikan justru tidak bisa dipahami.
Sebagai salah satu aktivitas dalam berkomunikasi yang penting, berkomunikasi secara efektif itulah menjadi penting, bagaimana bisa pesan diinterpretasikan dari komunikator dan komunikan bisa memahami tanpa adanya pembatasan dari budaya dan latarbelakang sosial. Padahal komunikasi efektif adalah aktivitas berkomnikasi yang paling penting karena saling bagaimana pesan tersebut bisa disampaikan dengan baik dan tidak bertele tele serta langsung menuju intinya.
Dari hal ini, keefektifan dalam berkomunikasi perlu ditanamkan dan diberikan pemahaman kepada semua manusia. Sebagai bentuk komunikasi yang paling berpengaruh, manusia seharusnya tahu dan mampu menggunakannya. Dari aktivitas berkomunikasi secara efektiflah, manusia juga menjalin hubungan baik dan mendapat kesempatan berkomunikasi lebih lanjut kepada orang lain karena telah mendapat perhatian dari komunikator lainnya.
Hasil dari aktivitas ini memang tidak pasti berlangsung dengan cepat namun bertahap. Tidak semua komunikasi berlangsung secara tidak efektif, karena itu bagaimana pengaruh budaya dan latarbelakang sosial berpengaruh dalam keefektifan model manusiawi dalam komunikasi antar pribadi.
                     BAB II
KEEFEKTIFAN MODEL MANUSIAWI
DALAM KOMUNIKASI ANTAR PRIBADI

1)        Keterbukaan
Dalam keterbukaan terdapat  tiga aspek dalam komunikasi interpersonal. Pertama, mengganti kemauan dengan pembukaan diri. Jadi, kemauan itu tidak hanya sebatas mau saja namun ada usaha untuk membuka diri terhadap orang lain. Untuk mengungkapkan semua tentang diri yang biasanya tersembunyi. Keterbukaan membuat orang tertutup, pada komunikasi interpersonal harus menjadi efektif. Artinya mampu berkomunikasi dengan baik. Jadi, ketika dua orang yang memiliki latar belakang sosial dan budaya ini harus mau untuk saling membuka diri, misalnya bila bertemu harus saling menyapa. Itu sudah cukup untuk memulai membuka diri terhadap satu sama lain
Kedua, keterbukaan meyangkut pada kemauan yang diubah menjadi kejujuran dalam penyampaian pesan. Diam dan tidak mengkritik dapat bermanfaat ketika dalam waktu yang gawat atau serius, tapi sesungguhnya ada perasaan bosan. Biasanya kita menginginkan adanya reaksi yang terbuka tentang apa yang kita katakan. Jadi, pada poin ini mengatakan bahwa kedua orang yang memiliki kebudayaan dan latar belakang sosial yang berbeda harus saling membuka diri satu sama lain, ketika salah satu dari mereka mengatakan bahwa dia tidak suka dengan sikap orang yang satunya, maka katakanlah. Jangan disimpan saja, karena pada dasarnya kejujuran ini yang membuat kedua orang tersebut tahu bagaimana budaya dan kebiasaan lingkungan satu sama lain, sehingga bisa mengerti satu sama lain
Ketiga, keterbukaan berarti menunjukkan perasaan dan pemikiran. Untuk menjadi terbuka dalam perasaan ini kita harus tahu apa yang kita rasakan dan pikirkan menunjukkan tanggapan atau respon kita pada mereka. Jangan mencoba untuk menyembunyikan tanggapanmu pada orang lain. Anggap saja dua orang yang memiliki latar belakang yang berbeda dan budaya yang berbeda ini sudah mencapai tahapan ini, jadi ketika keduanya sudah berbicara satu sama lain, maka biasanya muncullah pemahaman dan pemikiran yang berbeda. Biasanya budaya dan latar belakang menjadi salah satu faktor yang mempengaruhi. Misal si A memiliki budaya yang keras dan frontal, jadi ketika dia berbicara dengan si B yang memiliki budaya yang halus, dia akan berbicara keras sesuai dengan budaya nya dan pemikiran pemikiran yang frontal sesuai dengan latarbelakangnya kepada si A

      Empati
Hal yang sulit dalam berkomunikasi adalah melakukan empati pada orang lain.. Empati pada orang lain adalah merasa apa yang orang lain rasakan, pengalaman apa yang orang lain dapatkan dari sudut pandang orang tersebut tanpa menghilangkan identitas diri sendiri, merasakan hal yang sama dari jalan pikiran yang sama. Empati menggunakan pemahaman diri, emosi seperti intelektual, apa yang dialami orang lain.
Untuk berempati pada orang, mencoba untuk lebih kalem, bebaskan diri dari emosi pribadi sebanyak mungkin. Untuk menerima empati, langkah pertama adalah mengurangi mengevaluasi sikap orang lain. Bagaimana kita memandang orang lain dalam melakukan sesuatu, misal baik atau buruk, benar atau salah justru membuat kita melabeli seseorang, ssehingga muncullah kesimpulan awal. Hal seperti ini yang seharusnya dihindari. Selain itu, kita juga harus mengurangi rasa menjudge orang lain, mengkritisi orang lain. Jadi, intinya disini kita benar benar melihat dan memahami orang lain dari segi pemahaman kita, tanpa subjektivitas apapun. Misal, si A dari latarbelakang sosial yang tinggi memberikan si B yang memiliki latarbelakang sosial yang rendah sebuah nasi bungkus karena si B lapar. Disini, mungkin pandangan kita mengatakan bahwa si A lagi membangun sebuah citra diri yang baik, tapi disini kita tidak boleh melabeli bahwa si A itu suka tebar pesona agar semua orang menyukai si A, tapi kita lihat dahulu maksud dan keinginan si A, apakah memang berniat menolong ataukah membangun citra diri dihadapan orang lain. Jadi kita harus benar benar melihat si A dari sudut pandang yang objektif.
Kedua, belajar sebanyak mungkin dari pengetahuan, pengalaman, kemungkinan orang lain. Lebih banyak tahu tentang orang lain, maka kita akan tahu tentang apa yang orang lain rasakan. Mencoba untuk memahami dan mendapatkan apa yang menjadi motivasi orang lain. Jadi masih diambil dari contoh kasus tadi,bahwa apa yang melatarbelakangi si A untuk menolong si B dengan membelikannya sebuah nasi bungkus tersebut harus kita ketahui, kita tidak bisa semena mena mengatakan bahwa si A itu sedang mencitrakan diri, tapi kita lihat niat baik dari si A. Misalkan memang si A berniat untuk menolong karena faktor kasian si B yang dari pagi belum makan, maka kita tahu apa yang menjadi motivasi dari si A dalam mengambil tindakan tersebut.
Ketiga, mencoba untuk mendapatkan pengalaman apa yang orang lain rasakan dari sudut pandang orang itu. Memainkan imajinasi pikiran kita pada orang lain dapat membantu kita melihat dunia dari sudut pandang orang lain. Masih dalam kasus tadi, Kita tidak hanya harus melihat kasus tersebut dari sudut pandang kita, tetapi juga dari sudut pandang si A pula. Kita bisa melihatnya dengan melakukan imajinasi. Sebelum kita melakukan imajinasi ini, kita harus cukup tahu bagaimana cara berfikir , cara si A melihat suatu masalah. Jadi kita bisa melakukan penembakan penebakan atau imajinasi bagaimana sudut pandang si A. Jika kita gagal dalam melakukan hal ini, maka ada cara lain untuk melihat bagaimana sudut pandang dan cara berfikir si A dengan melihat ke latarbelakang dan budaya. Misal, Ia tinggal di lingkungan yang dermawan, maka hal itu tidak akan terlepas dari si A yang memberikan sebungkus nasi kepada si B.
Empati juga dapat berupa verbal maupun non verbal. Walaupun empati umumnya bersifat positif, namun ada beberapa sisi negative juga. Orang kebanyak ber empati sama dengan rasis, atau menyusun status orang lain. Empati juga meningkatkan pemahaman kita bahwa kelompok lain lebih rendah daripada kelompok kita. Jadi, empati dapat mengubah kedekatan dan identitas kelompok, dapat juga membuat garis antara satu grup dengan grup lainnya.

Dukungan
Dukungan membantu perkembangan dalam diri anda.
Penjelasan dari pada evaluasi
Sebuah keadaan bahwa penggambaran dari evaluasi mengarah pada bentuk dukungan. Jadi, disini penjelasan evaluasi itu kita diminta untuk menggambarkan suatu keadaan dimana menurut kita keadaan tersebut sebenarnya tidak mengancam tetapi kita mencoba untuk menjelaskannya, jadi kita tidak perlu merasa ditantang dan mempertahankan diri kita. Walaupun begitu komunikasi yang bersifat keputusan atau evaluasi mengarahkan kita ke sifat bertahan, untuk mengikis penghalang antara kita dan evaluator.
Kesementaraan dari  kepastian
Bersifat sementara, berpemikiran terbuka dan bersedia untuk mendengar pandangan yang menentang dan mengubah posisi jika terjamin. Kesementaraan dari pada kepastian yang kokoh, membantu untuk menciptakan suasana yang mendukung.
 Dukungan Positive
Sikap positif dapat ditunjukkan dengan berbagai macam perilaku dan sikap, antara lain:
  1. Menghargai orang lain 
Menghargai orang lain ini diterapkan ketika dua orang yang memiliki latarbelakang yang berbeda ini bisa saling menghormati tradisi tradisi dari masing masing budaya yang dibawakan dan dilakukan sehingga menjaga keharmonisan dari dua orang tersebut.
  1. Berpikiran positif terhadap orang lain 
Jadi, tiap tindakan ataupun perilaku dari dua orang yang berkomunikasi ini diinterpretasikan oleh masing masing dengan positif, tidak ada pemikiran pemikiran negatif yang terlintas dengan setiap tindakan satu sama lain.
  1. Tidak menaruh curiga  secara berlebihan.
Hal ini berkaitan dengan yang poin kedua, dimana seseorang dari orang tersebut harus memandang positif setiap perilaku orang lain dan tidak memikirkan hal hal yang terlalu berlebihan yang dilakukan oleh orang lain
  1. Meyakini pentingnya orang lain. 
Dengan meyakini pentingnya orang lain, maka kita akan menghargai dan memandang positif apa yang orang lain butuhkan atau lakukan. Dengan begitu, kita perlu menekankan pada diri kita betapa pentingnya orang lain terhadap kehidupan kita dan juga dengan meyakini pentingnya orang lain, maka kita percaya terhadap setiap perkataan orang lain yang diucapkan yang menghindarkan kita untuk bersikap selalu skeptis terhadap orang lain.
  1. Memberikan pujian dan penghargaan
Dengan kita menghargai orang, maka kita akan dengan mudah untuk melontarkan pujian dan penghargaan terhadap orang lain, selain itu maka kita juga saling menjaga relasi dengan orang lain dengan baik.
  1. Komitmen menjalin kerjasama
Jadi, pada poin ini semua orang lain yang ingin menjalin kerjasama dengan oang lain harus mempunyai komitmen  yang baik sehingga tidak ada konflik yang terjadi ketika salah satu pihak ingin membatalkan kerjasama dengan orang lain.
ada 2 cara untuk berkomunikasi secara positive  pada komunikasi antar pribadi.
1. sikap
            Sikap positive dalam komunikasi antar pribadi merujuk pada sebuah respon positif pada seseorang. Perasaan kita sangat berpengaruh pada saat berkomunikasi. Sebaliknya perasaan negatif menghambat kita dalam berinteraksi. Jadi, disini lebih bagaimana kita menginterpretasikan perasaan kita ketika kita berinteraksi dengan orang lain, termasuk ketika berinteraksi dengan mereka yang memiliki latarbelakang berbeda dan budaya yang berbeda, tentu kita tidak akan asal asalan memilih sikap yang pas ketika kita berinteraksi.
2. pujian
            Pujian, kebiasaan yang kita ketahui sebagai bentuk sikap positive kita kepada orang lain. Jadi dengan pujian, kita menunjukan sikap positis kita terhadap orang lain, kita membuka diri kita terhadap orang lain.
Persamaan
Yaitu sebuah karakteristik dimana kita harus mengesampingkan keadaan apakah kita lebih kaya, lebih ganteng dll, agar tercipta kesetaraan agar komunikasi dapat berlangsung dengan intensif. Jadi, disini kita tidak menempatkan budaya dan latar belakang sosial untuk berkomunikasi satu sama lain.


              BAB III
KESIMPULAN

Dari pemaparan yang sudah disampaikan diatas, sebenarnya setiap manusia memiliki kemampuan untuk melakukan model model komunikasi. Setiap manusia berpotensi memiliki kemampuan tersebut. Hanya saja, manusia itu sendiri terbentuk dari lingkungan , latarbelakang sosial , dan budaya sehingga setiap manusia justru memiliki kemampuan yang tidak merata dari setiap model model tersebut. Manusia harus mengembangkan sendiri model model tersebut untuk tuntutan dia berkomunikasi dengan manusia yang lainnya.
Pada dasarnya, aktivitas ini bukan tidak mungkin untuk dipelajari, semua bisa dipelajari. Tetapi biasanya latar belakang sosial dan budaya yang sangat menentukan karakter dan model model apa saja yang digunakan oleh manusia itu sendiri dalam berkomunikasi. Jadi, seharusnya manusia mengembangkan model model yang lainnya itu sendiri, agar bisa berkomunikasi dengan orang yang memiliki budaya dan latarbelakang sosial yang lainnya.
Sebagai manusia yang tidak bisa lepas dari komunikasi, kita harus memahami segala aspek komunikasi dengan baik. Dengan begitu, model model yang lainnya sendiri kita harus kembangkan selain dari lingkungan, latarbelakang dan budaya yang ada. Kita kembangkan sendiri sehingga ketika kita mencoba untuk berkomunikasi dengan orang yang memiliki budaya dan latarbelakang sosial yang berbeda, kita tidak canggung dan takut sehingga kita bisa memahami bagaimana apa yang haris dilakukan , apa yang harus diungkapkan dan apa yang harus diperbuat sehingga kita dapat berkomunikasi secara efektif.

Karena itu, semuanya kembali pada diri manusia itu masing masing. Jadi, masing masing manusia dapat memilih dan menggunakan model model tersebut sebagai cara berkomunikasi dengan baik, dan latarbelakang sosial dan budaya mempengaruhi bagaimana model komunikasi terbentuk, namun pengaruh dari latarbelakang ini tidak begitu memiliki pengaruh yang sangat besar karena semuanya kembali kepada individu individu masing masing yang ingin berkomunikasi. Jika manusia tersebut sanggup untuk menguasai bagaimana berkomunikasi dengan model model komunikasi yang umum, maka ia dipastikan dapat berkomunikasi dengan siapapun dengan baik, namun jika ia gagal mempelajari model model lainnya, maka ia hanya bisa berkomunikasi dengan karakter yang sudah terbentuk dari latarbelakang dan budayanya saja.