Friday, July 19, 2013

Masalah Bebas nilai dalam teori retorika

A.    Latar Belakang
Kita tahu, zaman kini berkembang, dari zaman yang dahulunya adalah zaman purba, kemudian menjadi zaman batu, lalu berkembang lagi hingga zaman modern ini. Perkembangan yang terjadi sungguhlah sangat pesat. Memang, ada beberapa faktor penting yang mempegaruhi, tapi salah satu faktor yang paling penting dari hal tersebut adalah meningkatnya ilmu pengetahuan.
Ya,  Semua tidak lepas dari yang namanya ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan termasuk salah satu hal yang berkembang pesat. Dulu, zaman ketika kepercayaan teologi masih kuat, ilmu pengetahuan termasuk hal yang paling ditentang. Bisa diingat tentu, pada zaman copernicus ketika menemukan sebuah pengetahuan bahwa bumi itu bulat, oleh beberapa ahli agama dari gereja menentangnya dan akhirnya membunuhnya. Ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan mengalami penolakan dan pertentangan.
Namun, setelah bergulirnya waktu, manusia menjadi semakin berkembang, manusia mengalami evolusi akal budinya.
“ Pemikiran manusia selalu mengalami perkembangan. Perkembangan itu terjadi baik dalam pikiran ilmuwan ataupun dalam dalam komunitas ilmuwan. Setiap ilmuwan selalu tumbuh ataupun berkemang setiap penelitiannya berkembang. Ia juga mewariskan pengetahuannya kepada generasi generasi berikutnya. Begitu juga hasil penelitian dari generasi terdahulu didiskusikan dan diteruskan kepada generasi mendatang berikutnya.” ( Keraf & Dua, 2001 hal 127).

Hal tersebut sudah cukup membuktikan bagaimana manusia mengalami perkembangan, dan tentu perkembangan manusia tersebut mempengaruhi dari berkembangnya ilmu pengetahuan. Karena secara tidak langsung manusia itu sendiri yang berpengaruh pada perkembangan ilmu pengetahuan. 
            Setelah manusia berevolusi dengan baik, ilmu pengetahuan pun menjadi berkembang dengan pesat, bahkan hal hal yang dulu dianggap sebagai hal hal mistis kini sudah dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan. Dengan begitu, kini banyak sekali manusia manusia yang telah bergantunga pada ilmu pengetahuan, bahkan dengan ilmu pengetahuan kita kini sudah dapat menjelajah langit dan bahkan menjelajah angkasa raya ini.
           



B .     Permasalahan
Namun, setelah ilmu pengetahuan berkembang pesat dan menyatu diseluruh elemen masyarakat, muncullah sebuah pemikiran, apakah ilmu pengetahuan ini bebas dari nilai nilai yang ada, ataukah justru terpengaruh oleh beberapa aspek nilai nilai kehidupan yang dapat mengakibatkan hilangnya kemurnian dari ilmu pengetahuan, dengan kata lain, ilmu pengetahuan telah kehilangan sisi kemurniannya?
Kita bisa ambil contoh kasus dari teori yang ada dimasyarakat, misalnya teori retorika. Teori ini bisa dikatakan sebagai ilmu pengetahuan sosial yang paling terkenal dan paling mudah untuk dipahami. Teori ini membahas tentang bagaimana kita bisa memanggil emosi pendengar, bagaimana kita bisa mendapatkan perhatian pendengar dengan menggunakan kata kata kita. Dari topik inilah, penulis ingin membahas tentang bagaimana hal ini berkorelasi dengan bebas nilai dan termasuk dalam kecenderungan apakah pengetahuan tersebut serta termasuk konteks apakah teori ini
C.     Pembahasan
Sebelumnya, mari kita ketahui terlebih dahulu tentang apa itu ilmu pengetahuan. Ilmu pengetahuan adalah pengetahuan yang tersusun dengan sistematis dengan menggunakan kekuatan pemikiran, pengetahuan  mana selalu dapat diperiksa dan ditelaah dengan kritis oleh setiap orang lain yang ini mengetahui. (Abu Ahmad, Ilmu sosial dasar, hal 331). Ilmu pengetahuanmerupakan sebuah karya budi yang logis, tentu bila kita melihat dari apa yang dilakukan oleh kopernikus. Dia melakukan perjalan mengelilingi bumi pasti dengan menggunakan imajinatif dan akal budinya yang diperpadukan.
Banyak ilmuwan mengatakan bahwa ilmu pengetahuan haruslah ilmu yang hanya mementingkan tentang ilmu pengetahuan, tidak tunduk dengan ilmu ilmu yang ada disekitarnya. Itulah yang disebut sebagai ilmu pengetahuan yang bebas nilai. Bila ilmu pengetahuan tunduk dengan ilmu ilmu dasar lainnya seperti masalah moral, agama, politik, dll itu menandakan ilmu tersebut sudah mengalamai pembiasan atau biasa disebut sebagai ilmu pengetahuan yang tidak memiliki kemurnian.
Selanjutnya, kita bisa melihat bagaimana teori retorika ini bekerja. Teori ini merupakan teori dimana kita mencoba untuk mensosialisasikan dan mempersuasikan segala sesuatu dengan apa yang kita miliki, dengan peralatan seadaanya, tapi bukan dengan menggunakan suap atau tindakan tindakan tercela lainnya. Teori ini memiliki dua asumsi dimana asumsi yang pertama adalah pembicara yang efektif mempertimbangkan khalayak mereka dan asumsi yang kedua adalah pembicara yang efektif menggunakan beberapa bukti dalam presentasi mereka. Maksud kedua asumsi ini adalah yang pertama , membahas tentang bagaimana khalayak menjadi pertimbangan dalam membuat pidato, dan khalayak dianggap sebagai masyarakat yang heterogen, sedangkan asumsi yang kedua ini menjelaskan tentang bagaimana yang seharusnya dilakukan oleh pembicara dalam menyiapkan dan pembuatan pidato tersebut. Ada 3 unsur yang harus dimasukkan disitu yaitu unsur pathos, logos dan etos. Pathos adalah bukti emosial, yang disampaikan kepada masyarakat, lalu logos adalah bukti logis, dimana bukti bukti secara konkrit yang diutarakan, dan etos adalah karakter, niat baik dan intelegensiadari pembicara.
Bila dilihat sekilas, mungkin kita bisa menyimpulkan bahwa teori retorika merupakan teori yang memiliki ilmu pengetahuan yang benar benar tidak tersentuh oleh hal apapun (ilmu pengetahuan yang murni) tapi pada hakikatnya, terdapat beberapa pengaruh yang mempengaruhi teori tersebut.
Teori ini, memiliki kecenderungan untuk menegaskan bahwa pembicara memiliki niat yang baik, pembicara memiliki keinginan sesuatu yang baik, oleh karena itu, dia memiliki kecenderungan bahwa seseorang yang beretorika haruslah memiliki moral yang baik, tanpa hal tersebut mungkin retorika tidak akan berjalan. Pada titik ini, kita bisa melihat bahwa teori ini sangat bergantung pada hal hal lain yang mungkin menjadi salah satu sumber yang menentukan bahwa teori retorika hanya bisa berjalan atau bisa digunakan hanya dengan menggunakan atau terpengaruhi oleh faktor moral. Dengan begitu kita bisa menilai bahwa teori retorika ini tidak bebas dari nilai.
Dilihat dari kecenderungannya, masalah kecenderungan dalam bebas nilai memiliki dua kecenderungan, yaitu kecenderungan puritan-elitis dan kecenderungan pragmatis. Kecederungan puritan elitis ini beranggapan bahwa tujuan akhir dari ilmu pengetahuan merupakan ilmu pengetahuan itu sendiri. Jadi, kecenderungan ini memiliki harapan bahwa ilmu pengetahuan yang ada ini diciptakan hanya untuk ilmu pengetahuan sendiri, tidak ada intervensi dari kepentingan kepentingan lainnya yang merasuki ke dalam ilmu pengetahuan itu sendiri. Sedangkan bila dilihat dari kecenderungan  pragmatis nya, ilmu pengetahuanhanya dianggap untuk mementingkan dan berguna bagi manusia itu sendiri. Dengan artian, ilmu pengetahuan tersebut mungkin saja terdapat intervensi intervensi dari kepentingan lainnya, bila hal tersebut dapat memberikan manfaat bagi manusia. Itulah mengapa , didalam teori ini, kita tidak hanya mengerti akan “tahu bahwa”, “tahu akan” dan “tahu mengapa” saja, melainkan kita juga perlu mengetahui “tahu bagaimana” juga.
Melihat dari dua kecenerungan yang ada, kita perlu menilik juga tentang bagaimana fungsi dari teori retorika ini. Teori ini merupakan teori yang memiliki fungsi untuk mempersuasikan kebenaran, maksudnya, kita kembali lagi harus melihat mengapa aristoteles menciptakan ini. Dilihat dari sejarahnya, aristoteles menciptakan teori ini untuk membantu anggota masyarakat yang tidak mampu menyewa jasa para sufis ( guru publik speaking) dalam menjadi hakim dalam sebuah peradilan menyangkut berbagai kasus kasus kriminal dan lain lain. Oleh karena itu, maka muncullah teori ini. Aristoteles tetap menekankan pentingnya kebenaran yang tidak lepas dari logika dan bukti bukti dalam presentasi mereka.
Bila dilihat maksud dan tujuan dari penciptaannya, maka kecendurangan yang mungkin ada dalam konteks ini adalah kecenderungan pragmatis, dimana teori tersebut digunakan untuk kepentingan manusia itu sendiri. Hal itu bisa dilihat dari mengapa teori tersebut diciptakan oleh aristoteles, yaitu untuk kebenaran manusia itu sendiri. Dengan begitu, tentu sama dengan kecenderungan pragmatis yang lebih mementing kegunaannya bagi manusia itu sendiri.
Bila kita melihat dari kecenderungan tersebut kita sudah mengerti bahwa teori tersebut lebih condong dalam kecederungan pragmatis, namun bila kita melihat dari segi konteksnya, mungkin akan menemukan hasil yang berbeda, mungkin saja.
Jadi, pada dasarnya, sintesis ini memiliki dua konteks, yang pertama adalah context of discovery dan yang kedua adalah context of justification. Context of discovery ini menjelaskan tentang konteks dimana ilmu pengetahuan ditentukan. Maksudnya adalah Ilmu penetahuan tidak ditentukan, ditemukan dan berlangsung dalam keadaan vakum, lepas dari hal tersebut, ilmu pengetahuan ditemukan dalam keadaan berkembang, dimana ilmu pengetahuan tersebut juga bisa menyelesaikan persoalan persoalan yang ada untuk manusia. Oleh karena itu, banyak ilmuwan yang dengan niat untuk mencapai sasaran dan tujuan yang lebih dari sekadar mencari kebenaran ilmiah murni.Mungkin saja, ilmuwan melakukan penelitian atau kegiatan ilmiah dengan tujuan , misalnya demi keselamatan manusia, atau kepentingan komersial ataupun non komersial, dan kepentingan kepentingan pribadi lainnya. Dalam konteks ini, sebenarnya membahas pula mengenai banyaknya intervensi intervensi dalam ilmuwan menciptakan kebenaran / kegiatan ilmiah. Hal tersebut ada karena pertama, latar belakang dari ilmuwan itu sendiri, kedua, keputusan tentang masalah mana yang ingin mereka teliti, dan ketiga, keputusan dari lembaga penelitian tentang jenis penelitian apa yang akan diteliti, dan keempat, yang paling penting, keputusan dari penyandang dana. Kelima adalah keputusan dan kebijaksnaan umum dalam masyarakat yang bersangkutan. Itulah mengapa dalam konteks ini ilmu pengetahuan tidak bebas nilai.
Kemudian bila kita melihat dari sudut pandang context of justification, maka kita bisa menemukan bahwa prinsip dari konteks ini adalah ilmu pengetahuan bebas dari nilai. Dalam konteks ini, yang dimaksudkan adalah konteks pengujian ilmiah terhadap hasil penelitian dari kegiatan ilmiah. Inilah konteks dimana kegiatan dan hasil diuji secara kategori dan kriteria yang murni ilmiah. Maka dari itu , dengan adanya itu, maka yang ingin disampaikan adalah bahwa satu satunya nilai yang diperhitungkan adalah nilai kebenaran. Dengan hal tersebut, maka dimaksudkan untuk melindungi objek dari hasil akhir kegiatan ilmiah, dan dengan demikian sekaligus melindungi otonomi ilmu pengetahuan, tapi hal itu memiliki konsekuensi yang harus ditanggung. Pertama, tujuan ilmiah dari penelitian ilmiah harus dibedakan dari tujuan pribadi dan sosial yang terkandung dalam penelitian ilmiah. Kedua, kemajuan ilmiah harus dibedakan dengan kemajuan sosial pada umumnya, padahal keduanya memiliki kaitan yang cukup erat. Ketiga, rasionalitas,kaidah ilmiah, dan kriteria ilmiah hanya berkaitan dengan bukti bukti empiris dan rasional. Keempat, dalam kaitan dengan ilmu ilmu empiris, penilaian mengenai hasil kegiatan ilmiah didasakan pada keberhasilan dan kegagalan empiris, serta kelima, hanya ilmuwan yang memiliki wewenang untuk memberi penilaian tentang fakta tentang fakta dan data, sekaligus kebenaran hasil penelitian.
Jika kita melihat dari tujuan dari teori retorika, dan kegunaan dari teori ini serta mengapa ada teori ini, maka sepertinya, teori ini lebih condong dan masuk dalam konteks context of discovery, mengapa demikian ?
Kita bahas sedikit tentang ini, pertama adalah teori ini tercipta dan berasal dari masyarakat itu sendiri, hal inilah yang mendasari munculnya teori ini, seperti sudah disebutkan diatas, teori ini berkaitan erat dengan keadaan sosial. Setelah semakin lama teori ini ada, dan berkembang, kita semua mengetahui kini teori ini tidak hanya digunakan saja dalam pengadilan atau hakim saja, kini bahkan seorang sales pun sudah menggunakan retorika dalam menjual barang dagangannya, dengan begitu perkembangan dari teori ini sangat erat kaitannya dengan keadaan sosial. Selain itu,teori ini sangat memiliki sangkut paut dengan hal hal lain seperti aspek moral. Bila tidak ada aspek aspek dari luar yang mempengaruhi, maka retorika tidak akan berkembang dan hanya akan stagnan di dalam teori itu tersebut. Dengan bukti bukti yang sudah cukup kuat seperti itulah, maka secara tidak langsung, bisa dikatakan bahwa teori ini merupakan teori yang memiliki sintesis context of discovery karena tidak terlepas dari nilai nilai yang ada
D.    Penutup
Jadi, dari hasil pembahasan yang telah dipaparkan, dalam dunia nyata, kita tidak bisa melepaskan suatu ilmu pengetahuan dari pengaruh pengaruh luar yang ada karena kemajuan ilmiah sangat berkaitan erat dengan kemajuan sosial, ketika ilmiah berkembang pesat maka secarap tidak langsung pula, sosial juga mengalami kemajuan, hal yang tidak berbeda pun dengan sebaliknya, ketika kehidupan sosial mengalami kemajuan maka ilmiahpun akan mengalami kemajuan. Dengan demikian, kita dapat mengambil sebuah kesimpulan bahwa ilmu pengetahuan sosial itu  khususnya teori retorika tidak bebas nilai.










Daftar Pustaka
West, Richard dan Lynn H. Turner. 2010.Teori Komunikasi: Analisis dan Aplikasi.Jakarta : Salemba Humanika.
Keraf, A Sonny dan Michael Dua. 2001. Ilmu Pengetahuan Sebuah Tinjauan Filsafatis. Yogyakarta : Kanisius

Ahmadi, Abu. 2009. Ilmu Dasar Sosial. Jakarta : Bhineka Cipta

1 comment:

  1. How to register on Online Casino? - KADG PINTAR
    online casino online. · Choose the option of a live table games such as 인카지노 video poker, 제왕 카지노 roulette, and 온카지노 video poker. · Set the minimum limits on

    ReplyDelete